Beberapa waktu yang lalu, Ketua Umum AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) Wahyu Dhyatmika, membeberkan data bahwa traffic media turun hingga 50% karena perubahan cara audiens dan user dalam mencari serta menemukan informasi.
Data ini diperoleh melalui penelitian dari berbagai aspek dan salah satu penyebabnya adalah ketika audiens memilih jawaban melalui AI. Lalu, apakah SEO akan mati? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara mengukur metrik SEO di era AI search?
Berangkat dari pengalaman saya sebagai pegiat SEO, saya mencoba mengoptimasi website, mengoptimalkan sebuah artikel agar muncul di halaman pertama Google.
Lalu, membuka GA4 atau Google Analytic 4, trafik stuk, bahkan cenderung terus menurun. Berbagai cara optimasi terus berjalan, ditambah lagi, Google Core Update terus bergantian datang setiap bulan. Apa yang sebenarnya terjadi? Metrik apa yang sebaiknya saya ukur?
Terutama ketika ratusan juta orang mencoba mencari jawaban melalui AI?
Metrik SEO Sudah Tak Lagi Jadi Acuan
Selama saya jadi pegiat SEO setidaknya hingga 7 tahun yang lalu, metrik SEO diukur dengan cara yang sederhana. Paling akhir, yang akan selalu jadi acuan adalah trafik dan rangking. Bahkan, jika dilakukan dengan cara yang benar, jutaan trafik akan masuk ke website hanya dalam hitungan bulan.
Tapi, kini tidak lagi sama. Kedatangan AI mengubah semua metrik, termasuk SEO.
Formula dan Metrik Lama SEO
Di masa lalu, dengan mendapatkan rangking, potensi CTR akan sangat tinggi, trafik bertambah, dan bisa menumbuhkan konversi.
Siapa pun akan berjuang untuk melakukannya berdasarkan volume keyword yang tinggi dan berbagai hal-hal teknis di bagian On Page dan Off Page tersendiri.
Kondisi Terkini SEO di Saat Munculnya AI
Jangankan jawaban melalui platform AI, sekarang mencari sesuatu di halaman Google Search bisa memunculkan jawaban melalui Google AI Overviews di bagian atas. Tak hanya organik melalui optimasi SEO, ketika saya menjalankan Google Ads pun iklan pun menjadi di bawah dari jawaban AI Overview.
Tapi kali ini kita coba fokus pada aspek SEO terlebih dahulu. Mengutip Lily Ray, VP of SEO Strategy, Amsive di Affiliate Summit West 2026 “Pergeseran inti adalah berpindah dari metrik berbasis ranking ke metrik berbasis visibilitas di seluruh platform AI. Brand harus mengukur seberapa sering mereka disebut atau dikutip dalam jawaban AI.”
Semuanya dicatat ketika CTR organik turun 61% ketika AI Overviews muncul di hasil pencarian. Pencarian yang bersifat informasio juga pada akhirnya memicu munculnya AI Overviews meskipun akan sangat tergantung dari industri.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pegiat SEO? Apakah kemudian melupakan cara untuk mengoptimasi website? Jangan lakukan hal tersebut. Toh, pada dasarnya mesin AI masih akan mengambil query yang datang dari hasil pengoptimalan sebuah website melalui konten atau artikel dari blog.
Lalu, apa metrik yang sebaiknya jadi pilihan bagi para pegiat SEO di era AI Overview atau mesin AI lainnya?
Belajar Metrik SEO di Era AI
Sebelumnya, dalam tahap ini saya masih dalam posisi learning. Metrik apa saja yang sebaiknya diukur. Hal ini karena ada munculnya berbagai faktor. Perubahan AI, hingga perubahan Google Core Update akan selalu jadi pertimbangan saya, bagaimana mengukur metrik SEO di era AI ini.
Berikut beberapa hal yang saya pelajari tentang cara mengukur SEO di era AI search.
1. Menghitung AI Visibility Score
AI Visibility Score digunakan untuk mengukur seberapa sering brand atau konten muncul di dalam jawaban yang dihasilkan oleh Google AI Overviews, Claude, ChatGPT, hingga Gemini.
Cara pelacakan yang bisa digunakan diantaranya adalah dengan menggunakan beberapa tools seperti Semrush AI Toolkit, Ahrefs AI Rank Tracker, atau BrandMentions.
Coba uji dengan membuat 30 pertanyaan yang relevan tentang brand atau produk dari brand tersebut. Uji secara manual di platform AI, dan catat apakah dari jawabannya mengutip atau menemukan brand atau produk yang sedang diuji.
Cara Menghitung AI Visibility Score
Saya akan mencoba membuat asumsi untuk menghitung AI Visibility Score dengan cara (Jumlah prompt AI brand Anda muncul ÷ Total prompt yang diuji) × 100
Contoh: Jika dari 100 prompt yang relevan dengan apa yang ditanyakan dan brand atau produk disebut di 10 prompt, maka AI Visibility Score Anda adalah 10%.
2. Melacak Persentase AI Citation Rate
Hal berikutnya yang patut dipertimbangkan yaitu, AI Citation Rate yang merupakan persentase waktu di mana platform AI secara aktif mengutip atau merujuk ke URL yang spesifik untuk ditampilkan sebagai sebuah jawaban.
Saya mencoba untuk mengutip data riset dari dari Princeton University. Artikel yang akan dirangkum jawabannya oleh platform AI menyebutkan sumber yang menambahkan kutipan ahli, meningkat hingga 41%. Artikel yang menyertakan statistik dengan sumber akan meningkatkan visibilitas hingga 30%.
Sementara itu, artikel yang dibuat dengan cara keyword stugging justru menurunkan persentase untuk dikutip oleh AI hingga 9%.
Data lainnya menunjukkan 61,7% kutipan LLM adalah ‘ghost citations’ domain mendapat tautan sumber. Sayangnya, nama brand tidak disebutkan dalam teks jawaban. Asumsunya, sebuah konten sudah dikutip oleh AI tapi, pemilik brand atau bisnis tidak menyadari hal ini terjadi.
Cara meningkatkan AI Citation Rate
Ada beberapa hal juga sedang saya pelajari tentang hal ini. Saya masih mencoba variasi menulis konten yang tepat jika memang ingin masuk ke dalam pencarian dan jawaban AI. Mulai dari mencoba membuat kalimat pertanyaan di bagian heading atau bahkan dengan menempatkan jawaban langsung di paragraf pertama. Cara seperti ini masih sangat dinamis, tapi bisa dicoba untuk melakukan A/B test.
Dalam penulisan konten, coba sertakan data dan statistik dari sumber yang bisa diverifikasi. Jika punya data sendiri tentunya akan lebih baik.
Satu hal yang belum saya coba adalah dengan menggunakan FAQ Schema (JSON-LD) yang diklaim mampu meningkatkan ekstrasi jawaban dibandingkan tanpa schema.
Tulis konten dengan format yang mudah diekstrak: pertanyaan di heading, jawaban langsung di paragraf pertama.
3. Gunakan GA4 Untuk Mengetahui AI Referral Traffic & Conversion Value
Sumber trafik dari platform AI memang dinilai memiliki volume yang kecil tapi punya nilai yang tinggi. Caranya, bisa menggunakan Google Analytic 4.
Dari dashboard GA4 buka Reports, lanjutkan Acquisition dan pilih Traffic Acquisition. Gunakan filter berdasarkan Session Source/Medium dan coba temukan referral dari chat.openai.com, perplexity.ai, gemini.google.com, hingga copilot.microsoft.co
Lalu, lanjutkan dengan membuat segmen khusus untuk membandingkan conversion rate AI vs organic.
4. Mengukur Brand Mention
Mengukur brand mention kini menjadi salah satu tugas yang penting bagi pegiat SEO. Jika dahulu, backlink social signal dari media sosial adalah salah satu caranya.
Dalam era AI, mengukur seberapa sering nama brand disebut dapat menggunakan metrik Entity Authority untuk mengukur seberapa kuat AI mengenali brand Anda sebagai entitas otoritatif di topik tertentu.
Dari data yang dirilis oleh Position Digital di tahun 2026, branded web mentios punya korelasi 0,664 dengan kemunculan nama brand tersebut di AI Overviews.
Bahkan jauh lebih tinggi dibanding korelasi backlinks yang hanya 0,218. Dari sini saya berasumsi, brand yang sering disebut di forum, media, dan komunitas online jauh lebih mungkin dikutip AI.
Beberapa variabel yang dapat dijadikan sebagai kutipan LLM berdasarkan analisa Seer Interactive di bulan Maret 2026 adalah domain authority dari sebuah website. Website yang sudah lama dengan nilai DA di atas 60 punya potensi untuk disebut dan masuk dalam jawaban AI.
Ketika banyak yang meragukan backlink apakah masih penting atau tidak di era AI jawabannya masih. Data dari Seer Interactive menyebutkan backlink berkualitas tinggi berpeluang muncul atau direkomendasikan AI.
Selain itu, masih ada penyebutan ‘best of’ dan ‘top,’ berapa total jumlah backlink yang berkualitas dan referal domain yang unik untuk meningkatkan website berpotensi masuk dalam jawaban AI.
5. Zero-Click Displacement Rate
Zero-Click Displacement Rate adalah cara untuk mengukur berapa persen dari trafik organik yang berpotensial ‘hilang’ dikarenakan audiens sudah mendapatkan jawaban langsung dari AI Overview tanpa harus mengklik sebuah website. Selain data dari ASMI, pada tahun 2026 yang lalu, Pew Research Centre menyebutkan CTR menurun mulai dari 8%.
Asumsi yang dibuat adalah untuk menghitung Zero-Click Rate = (Impressi – Klik) ÷ Impressi × 100
Lalu, bandingkan data impressi vs klik di Google Search Console sebelum dan sesudah AI Overviews aktif di query website.
6. Mengukur Prompt Coverage Rate
Prompt Coverage Rate merupakan metrik yang digunakan mengukur seberapa luas spektrum pertanyaan yang tersedia di konten website dalam berada di dalam ekosistem AI.
Dalam tools AI query tidak lagi bersifat kaku. AI kini lebih dalam mencoba belajar memahami intent dan konteks, sehingga satu halaman bisa relevan untuk ratusan variasi pertanyaan berbeda.
Misal, satu artikel tentang ‘cara servis HP Samsung’ bisa dikutip untuk pertanyaan ‘baterai pengganti yang bagus untuk HP’, ‘merek baterai HP Android’, hingga ‘berapa biaya ganti baterai HP Samsung’.
Cara meningkatkan Prompt Coverage
Oleh karena itu, pula lah keyword dengan intent yang lebih tinggi akan menjadi hal yang penting dibandingkan volume keyword di masa kini. Riset ini bisa dilakukan melalui People Also Ask dalam Google Search dan masih banyak tools lainnya yang bisa digunakan.
Pastikan juga untuk membuat struktur konten dalam sub-heading untuk memberikan pertanyaan juga bisa jadi pilihan.
Struktur konten dengan subheading berbentuk pertanyaan langsung.
Framworks dan Tools Untuk Memantau SEO di Era AI
Metrik di atas tadi memang patut untuk dipantau. Tapi, bicara keseluruhan tetap dibutuhkan framework dan tools untuk memantau SEO sangat penting.
1. Tools Untuk Mengukur SEO Klasik yang Tetap Relevan
Meskipun jumlah klik dan CTR turun, tapi menggunakan metrik SEO klasik tetaplah hal wajib. Menggunakan Search Console dan GA4 adalah pilihan yang tepat.
Tetap catat klik dan impresi yang datang secara organik, Cek juga CTR per keyword cluster, rangking hingga core web vitals yang memang jadi prioritas penting dari Google.
2. Tools Untuk Menangkap AI Visibility
Hal baru di era SEO AI ini bisa melacak dan mengukur AI Visibility Score, AI Citation Rate, Prompt Coverage Rate, Brand Mention Frequency. Bebera[a tools yang bisa digunakan adalah Ahrefs, SEMRush, BrandMention hingga Otterly.ai
3. Tools Untuk Mengatahui Kualitas Trafik dari AI vs. Organik
Mulai lah dengan melacak menggunakan GA4 dan membuat segmentasi custom melalui sumber AI Referral Traffic (dari ChatGPT, Perplexity dan masih banyak yang lainnya.
Mulailah dengan membuat metrik AI vs. Organic dengan menghitung Conversion rate per traffic source, bounce rate dan session duration dari AI referral dan zero click displacement rate dari Search Console.
4. Tools Untuk Entity & Reputation
Gunakan mention.com, BrandWatch hingga Google Alerts untuk melihat penyebutan nama brand di media dan forum, sentiment dari penyebutan brand hingga Share of voice di AI answers vs kompetitor.
Beberapa tools ini ada yang tersedia gratis dan berbayar. Mulai dari Google Analytic hingga Search Console adalah tools gratis. Sementara itu, sebagai penyeimbangnya seperti Ahrefs, BrandWatch, SEMrush merupakan tools berbayar.
Rekomendasi Strategi yang Tepat untuk SEO Era AI?
Dalam tahap learning ini saya mencoba membagikan beberapa rekomendasi strategi yang tepat untuk SEO, jika ingin fokus memanfaatkan AI sebagai alat ukur.
Jika AI Citation Rate Anda Rendah
Ketika ini terjadi, maka konten yang sudah dibuat belum “AI-friendly.” Coba, cek dan audit konten dengan melihat, apakah di paragraf pembuka sudah mampu memberikan gambaran di awal paragraf?
Apakah konten sudah kuat dengan unsur E-E-A-T? Sudah menggunakan heading dalam bentuk pertanyaan langsung? Sudah menyertakan data dari sumber yang terpercaya di dalam artikel?
Terakhir, bekerjasamalah dengan tim lain untuk mulai menyiapkan FAQ Schema dengan (JSON-LD)
Jika Zero-Click Rate Meningkat Tajam
Turunnya trafik bukan berarti kualitas SEO menurun. Artinya, perlu ada ruang improvement untuk SEO. Selain mengoptimalkan konten, fokus pada kata kunci yang lebih intent dan transaksional. Karena cara ini cenderung lebih aman dari AI Overviews.
Selanjutnya untuk bisa berkompetisi dan mencari celah di era SEO AI, masukkan CTA berupa leads hingga mengunjungi lamat komunitas untuk menciptakan nilai yang lain dari sebuah brand.
Strategi Ketika Brand Mention Rendah
Di era AI, strategi off-page adalah mengandalkan backlink yang berkualitas. Selain itu, sebuah brand juga hadir di dalam seluruh ekosistem digital.
Mulailah membangun PR digital, aktif di komunitas baik secara online dan offlie hingga tunjukkan kepercayaan di brand melalui media sosial seperti Linkedin adalah pintu awal untuk mengatasi brand mention yang rendah.
Baca juga: SEO Lama vs SEO Era AI: Beradaptasi dengan Pergeseran Besar di Era Digital
Baca juga: Belajar Lagi Bagaimana Cara Membuat Tulisan yang SEO Friendly
Di masa kini SEO yang kehilangan volume traffic tidak selalu berarti kehilangan nilai bisnis. Artinya, akan selalu ada ruang untuk improvement yang lebih baik.
Kedudukannya akan seimbang jika berhasil mendapatkan trafik yang lebih berkualitas dengan sumber dari AI referall. SEO tidak akan mati. Karena, sumber dari AI hingga saat ini tidak dilepaskan dari kehadiran Websiten dan dikendalikan dengan SEO yang baik pula.
Penulis adalah mantan content editor yang sudah mengulas lebih dari 100 film dan tv series, jurnalis teknologi yang sudah mengulas lebih dari 500 gadget dan juga pegiat serta praktisi di bidang digital marketing serta SEO. Untuk lebih detil, bisa cek di tautan penulis ulasanwarga.com
